Author Archives: Iman

Seorang anak Indonesia yang punya keinginan buat maju, dan bikin bangga bangsanya.

vote

Dear All,

Mungkin belakangan ini anda agak kesal. Karena wall post anda dipenuhi oleh pesan-pesan promosi saya. Yeah, memang seminggu ini saya cukup bersemangat melakukan aktifitas “jual diri”. Haha. Kenapa? Postingan ini akan mencoba menjelaskan semuanya. Dan juga, sekaligus menjawab “kenapa sih saya harus vote kamu?”. Pertanyaan cerdas! karena saya juga nggak mau anda mempercayakan vote anda dengan sia-sia. Postingan ini memang akan sedikit panjang, dan memakan waktu anda untuk membacanya. Tapi saya jamin, ini bukan cuma curhatan pribadi. You’ll get more. Trust Me! haha

Pertama kali saya mengetahui One Young World, dimulai dari ketika saya mendapatkan info ini dari salah seorang teman saya. Dan ketika saya cek di website One Young World, wow. There’s a big oppurtunity, dan LONDON.. honestly, memiliki daya tarik tersendiri. Siapa sih yang nggak mau pergi ke London? Dan bagi saya pribadi, ini bisa jadi sedikit penghibur lara atas kegagalan saya lulus di program Global Changemakernya British Council tahun ini.

Nggak pake lama, saya segera apply. Dan memang karena profile letter udah stand by, tinggal copy paste aja, dan sedikit editing (katanya sih udah di edit, tp masalah grammatical jangan ditanya. hehe). Then, ketika udah muncul profile. Hehe, langsung saya vote untuk diri sendiri duluan. Ya iyalah, kalo saya sendiri nggak ngerasa pantas untuk terpilih, kenapa harus apply?

Kenapa sih saya mau ikutan, dan akhirnya capek-capek promo sana sini?

Honestly, Saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah project “ChildrenBehindUs” funded by: Microsoft Asia Pacific. Merupakan sebuah kegiatan edukasi bagi anak anak di slum areas di Jakarta mengenai hidup bersih dan sehat, dan juga kemampuan baca tulis. Selain itu juga program edukasi mengenai penggunaan internet, dan kreativitas lainnya. Kegiatan ini merupakan pilot project yg di design oleh 3 negara, Indonesia, Malaysia dan Thailand (berawal dari keberangkatan saya beberapa waktu silam ke Malaysia). Program ini akan menentukan apakah kegiatan serupa akan dilaksanakan di 2 negara lainnya.

Then, saat ini saya diminta oleh rekan saya Joel Neoh (Pemenang The Apprentice Malaysia, Co-Founder: Youthsays dan YouthAsia!) untuk membantunya sebagai country manager SEACHANGE untuk Indonesia. SEACHANGE sendiri merupakan sebuah movement kaum muda di Asia Tenggara untuk menyuarakan perubahan, dan rekomendasi ke stakeholders di ASEAN. Puncaknya, akan digelar Youth Engagement Summit, November 2009 di Malaysia.

Dan terakhir, saat ini saya sedang membantu Kementrian Pemberdayaan Perempuan untuk mengolah database dan kesekretariatan di Forum Anak Nasional. Di mana, sekretariat ini akan menjadi jembatan bagi seluruh forum dan komunitas anak anak di Indonesia, untuk berbagi informasi, cerita, dan tolak ukur kemajuan supremasi hak anak di Indonesia.

Apa hubungannya dengan One Young World?

One Young World is a platform to engage and inspire the young people of today – the decision makers of tomorrow. It will help them to adopt a position of leadership on the challenges facing the world today and in the future. One Young World taps into a global resource of new ideas that demand hearing.

Puncaknya akan digelarlah yang namanya One Young World Summit di London, Februari 2010. Forum ini akan dihadiri oleh 1500 remaja di seluruh dunia, dan juga para pemangku kebijakan, serta potential partners. Apa yang saya harapkan? Seperti yang saya bilang, London memang memiliki daya tarik. Dan saya dari dulu juga memang bermimpi untuk ke sana. Saya percaya bahwa ketika saya lebih banyak mengunjungi beragam tempat, saya akan menjadi lebih open minded, dan tahu apa yang harus dilakukan. Saya masih ingat apa yang pernah dikatakan Anies Baswedan (Rektor Univ. Paramadina):

“saya menganalogikan. ketika orang meminta saya untuk menjelaskan seperti apa rupa rumah saya? maka akan lebih mudah bagi saya untuk menjelaskannya ketika saya pergi ke luar rumah, lalu saya lihat rumah saya. Oh.. rumah saya berlantai 2.. bla bla bla.. Ini sama dengan ketika saya diminta untuk menjelaskan rupa Indonesia, dan melihat Indonesia itu seperti apa dengan objektif. Akan lebih mudah bagi saya pergi ke luar Indonesia, melihat Indonesia dari luar, kemudian just tell them!”

Dan London adalah salah satu tempat yang tepat bagi saya untuk belajar mengenai ini semua

Just it?
Tentu saja bukan. Lebih dari itu, sebenarnya terkait dengan sejumlah aktivitas yang sedang saya jalankan. Sejak dulu saya percaya bahwa networking berperan penting untuk mencapai apa yang kita mau. Kapabilitas yang saya miliki belum cukup, jika tidak ada yang memeberikan support”. Saya percaya bahwa ketika saya diberikan kesempatan untuk mengikuti One Young World Summit, ini akan memberikan akses besar, dan peluang besar ada di depan saya, untuk mengolah projects tersebut. Funding lebih mudah, dan yang paling penting, upaya untuk meningkatkan awarenes masyarakat akan lebih mudah, karena satu title baru melekat di pundak saya. Kesempatan untuk berbuat lebih besar bagi masyarakat dan kemanusiaan. Itu intinya. Seperti kata Billy Boen, “THINK BIG”. dan saya percaya bahwa akan ada hal hal luar biasa yang akan segera datang, yang tidak saya sangka

Akhir kata semua saya serahkan kepada anda, This is your choice. Anda bisa memilih saya saja, atau memilih bersama orang orang yang sudah anda pilih, atau bahkan tidak sama sekali. That’s your choice. Berangkat atau tidak, hal yang paling saya syukuri dari langkah yang saya ambil ini, I’ve got more friends, more oppurtunities, and semangat lebih besar! Ada cerita lain dibalik keikutsertaan saya ini, yang akan saya share di postingan berikutnya. Terima kasih bagi yang sudah memilih saya, bagi yang belum.

VOTE ME ON http://apps.facebook.com/oywcandidates/entry/587/

Regards,
Muhamad Iman Usman

Note:
Link terkait:
SEACHANGE : http://youthsays.com/seachange dan http://yes2009.asia
Forum Anak Nasional : http://kotalayakanak.org

Pada tanggal 12 September 2009, 43 mahasiswa baru didampingi senior angkatan 2007 jurusan Ilmu Hubungan Internasional UI didampingi melakukan kunjungan NGO bekerjasama dengan HOPE Worldwide Indonesia ke Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan salah satu program yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa baru jurusan HI UI 2009, dalam rangkaian kegiatan Temu Keluarga Hubungan Internasional (TKHI) 2009.

Di Cilincing, setiap peserta melakukan kegiatan community service bersama warga sekitar, yang terbagi dalam 2 sesi. Pada sesi pertama, kami terlibat dalam kegiatan daur ulang kertas. Kami dijelaskan mengenai proses daur ulang kertas, dan juga mempraktekkannya langsung. Kemudian, kreatifitas kami diuji dalam kegiatan pemanfaatan kertas bekas menjadi barang-barang berguna. Misalnya, tempat pensil, celengan, dll.

P9120072

Pada sesi kedua, kami terlibat dalam kegiatan “Saturday Academic”. Kegiatan ini merupakan program rutin yang dilakukan oleh Hope Worldwide Indonesia setiap Sabtu. Pada program ini, kami menjadi volunteers yang berperan sebagai pengajar anak-anak yang tinggal di sekitar daerah tersebut. Kami dibagi ke beberapa kelas, mulai dari TK A hingga kelas 6 SD. Saya sendiri bersama Dwinta dan Garry bertugas mengajar anak-anak kelas 4 SD. Karena keterbatasan tempat, kelas 4 digabung dengan kelas 5 dan 6. Sehingga beberapa teman saya yang semula mengajar di kelas 5 dan 6 juga berpartisipasi sebagai pengajar.

Pada kegiatan yang berlangsung selama 2 jam ini, proses belajar mengajar berlangsung cukup menarik. Anak-anak terlihat antusias dalam mengikuti setiap pelajaran yang kami ajarkan. Kegiatan dimulai dengan perkenalan, dan menyanyi bersama lagu “Twinkle-Twinkle Little Star”. Selanjutnya sejumlah topik juga diajarkan, seperti: tata krama, bahasa Inggris (introduction, jobs, greetings, dll). Selain itu juga ada quiz Bingo yang ditampilkan dalam format pengetahuan umum. Salah satu hal yang menarik dari kegiatan ini, kami juga berdiskusi mengenai cita cita. Setiap anak diminta untuk menggambarkan cita cita mereka di selembar kertas, kemudian beberapa anak diminta untuk bercerita mengenai cita-cita tersebut. Hal miris yang muncul pada kegiatan ini, ketika salah satu anak ditanya kenapa tidak mau menjadi presiden, anak tersebut menjawab “ketinggian kak, kalo jadi presiden”. Tak lupa kami juga memberika semangat kepada mereka untuk meraih cita-cita.

Di akhir kegiatan ini, kami membagikan selembar kertas, untuk menuliskan kesan dan pesan bagi kami para pengajar. Pada umumnya, testimonial dari mereka menunjukkan bahwa mereka senang dapat belajar bersama kami, dan mengharapkan agar kami dapat kembali mengajar di sana pada lain kesempatan.

P9120045Personal Note:
Well.. setelah cukup lama mengidamkan kembali berkegiatan dan bervolunteering, akhirnya kesampaian juga. Seru skali bisa ketemu sama anak-anak di sana. Panas terik, ditambah dengan hawa pantai yang panas, nggak jadi halangan buat berbagi dengan anak-anak di sana. Paling seru pas ngajar anak-anak. Yeah! Senang mendengarkan cita cita mereka yang segudang. Sekaligus miris, ketika sejumlah persoalan yang ada mengintervensi mereka untuk mengimpikan profesi tertentu. Misalnya, ga ada yang mau jadi presiden dengan alasan “ketinggian kak!”, atau ga ada yang mau jadi polisi dan tentara dengan alasan “takut salah tembak kak”. Yeah, jawaban jawaban polos mereka, membuat kita semua bersemangat bahwa dengan kerja keras, bisa dilakukan!

Terima kasih buat Panitia TKHI 2007 yang sudah bekerja keras untuk menghasilkan kegiatan seperti ini. HOPE Worldwide Indonesia, dan juga teman-teman HI UI 09 yang sudah bekerjasama dan menunjukkan komitmennya.

Several days ago, I received an email from Friendshid Ambassador Foundation (FAF). This is an international institute for a culture of peace, and also co-founders of the Youth Assembly at the United Nations, which annually held in New York. Every year, beside held youth assembly, this institute also choose several children in the world to receive an award named Youth Achievers Recognition Award. It honors 16-18 years old students who have significantly contributed to a cause and shown leadership in community service project, scientific research on sustainability, youth mobilization for an MDG related issue or other social development initiatives. Every candidate should nominated by an organization/ institution.

Last year, beyond the deadline of the application (and not recommended by an organization, means, nominated personally), I sent the application. Do you know the result? Of course, I didn’t make any achievement on it. This year, I asked Youth MDG Indoensia to give recommendation for my application. Then, although almost reaching the day of deadline, I still participated on this event.

Back to the email that I received. On that email, mentioned my name as one of the award recipients for this year. surprised? REALLY!!! OBVIOUSLY! I never imagine that i joined on the recipients of this year. I feel unappropriate to receive this award. What I’ve done since I was 10 years old, not really much, and haven’t influenced many people. I believe that many children in other places, who more deserve to get this. However, I still thankful for this, and believe that this is a good point for me, to contribute more for humanity. What I have done, would be better, if i could inspire more people to do this. Small action doesn’t mean nothing. I belive on this! Thanks for everyone who support me a lot. Especially for Bastian from Youth MDG Indonesia who recommended me. Hehe

P.S. After knowing about this news. I got a letter from UNFPA Indonesia on my capacity as Youth Advisory Panel on it’s UN agency. On that letter, stated Dr. Haque (UNFPA Indonedia Head Representative) glad toward this achievement, and would like to congratulates me. This is more surprise that I got!! haha

Profile of 2009 award recipients

Sayid Abdullaev
For his engagement and devotion to raising awareness on environmental protection and his charitable work on behalf of youth.

Chaitanya
For his work as a youth mobilizer for projects on environmental protection and raising awareness about HIV/AIDS in rural areas and slums.

Joseph Tsai
For his dedication to ameliorating the duffering of cildren and using his musical talent to fundraise for humanitarian causes.

Avinaash Subramaniam
For his outstanding creativity and inventions to ameliorate the suffering of children and disabled and for his commitment to the environment.

Muhamad Iman Usman
For his active campaigning to raise awareness about the MDGs and advance children’s rights.

Megan Partridge
For her dedication to education and climate change.

Natasha Weaser
For her dedication and work in the area of children’s health and disaster relief.

Virginia Alejandra Morales Gomez
For her outstanding work in managing the Youth Empowerment Fund in her region in support of underprivileged youth and the environment

Shivathmihai Nagappan Chettiar
For her dedication to raising local awareness and mobilize youth for the achievement of MDGs.

Sophia Kpetigo
For her dedication and work toward the advancement of children’s rights and women’s health.

Nellore Sampat Sathyanarayanaa
For his dedication and work as a youth mobilizer towards the achievement of the MDGs.

source: http://www.faf.org/unyouthassembly/yaaward.htm

5536_116519164961_788379961_2376951_5776870_n

First of all, I’d like to say sorry for not updating this blog. Hehe. Actually, since I started the activities in my university (Yeah! Now, I’m not a student! But a university student!), I’ve been really busy with all orientation things. Like what other students did, they had orientation on university scale, faculty scale, and finished with major scale. I just finished the first two of them. I got many things; friends, spirit of life, life skills, etc. The most remarkable thing is I learn to be more respect with social.

On Faculty orientation, we divided into several groups. Each group consist of 10-12 people. But, unfortunately although, I have 12 people on the list, but just 7 people who actively involved. But, It’s okay! I enjoyed with them. We named this group with “Garuda 52″. Garuda like a symbol of spirit of nationalism. Then 52? that’s the lucky number that we got from the committee.  One of the task that we had, was creating a social project. We only had 1 day for discussing the project, including preparing the proposal. Finally, after debating a bit.. we selected going to hospital on independence day.

Every 17th August, Indonesia celebrates it’s Independence day. Usually, many people, especially the children celebrate the day through held some events. Such as art festival, traditional games, etc. The children are really enjoy the day. But, we realize, not all the children in this country can do the things as the others do. One of them is the hospitalized children.

That’s why, we went to one of hospital in Depok, West Java.  We shared the fun, gave them quiz, and of course, distributed the prize. Yeah. Maybe not more than 15 children who joined this event. But, we belive that, through being “act locally”, we did something!!!

more photos; on My Facebook. hehehe

Link nya bisa dibuka di http://www.unicef.org/indonesia/reallives_10928.html

Thanks banget buat Mbak Devi dari UNICEF yang udah wawancara.

By Devi Asmarani

Jakarta, Indonesia 23 July, 2009 -It has been a very busy year for M. Iman Usman since he was named an Indonesian Young Leader in 2008. Asides from leading his own organizations at home in Padang, West Sumatra, he has represented his peer at various world conferences, took part in international competitions and volunteered in more social projects. On top of that, he managed to come out top in his class at the National Exam and get accepted at the prestigious University of Indonesia.

“Doors have definitely opened for me since the Indonesian Youth Leader Award,” he told UNICEF in an interview. “And it’s a way to inspire other kids to do more for the world.”

In the interview below, he talked more of his passion to participate and what inspires him:

Q: So what has been happening since you won last year’s award?
A: Since the award I continued as the secretary of Children’s Forum in West Sumatra, but I have now left my position (he has moved to Jakarta ahead of university). And through the organization I founded, the Community of Critical Children of Indonesia, we held the event Stand Up campaign MDGs Millenium Development Goals With The Children in October. I am still active in training other friends who are interested in becoming volunteers in the organization and also I’m trying to find a new generation of leader to replace me there.
I also took part in a one-month exchange student program in Japan with Bina Antar Budaya.

Last Ramadhan month, I had the opportunity to become one of the finalists for Mondialogo World School Contest in China. This is a competition for collaborative projects around the world organized by UNESCO and Daimler. Out of 36,000 kids from 3,200 schools, I was in the top 25 and was named a junior ambassador to promote intercultural dialogue.

I also represented Indonesia in various international conferences. One of them is the Microsoft Regional Innovative Student Forum in May 2009 in Malaysia. In the project competition I won USD 1,000 in funding from Microsoft Asia Pacific to start up a pilot project for kids. The pilot project will focus on education for kids in slum areas, and it will be executed in a few months.

In June, I participated in the World Leadership Conference in Singapore on the environment and economy. And recently I became the UNFPA Youth Advisory Panel. We are the second generation of such panel. The UNFPA chose some teenagers from all over Indonesia to take part in this teen panel, which will give them feedbacks and evaluations on their programs to help make the projects more teen-friendly.

And, of course, I also had to prepare for the National Exam.

Iman as a jury for 2009 with Purwanta Iskandar from UNICEF, Pardina Pudiastuti From KPP, Maria Hartingsih from Kompas and Budi Harjono from Impact Indonesia.

Q:  With all these activities you still had time to study?

A: Well, I did get the highest NEM (National Examination Score) in Padang, maybe I was just lucky (laughs).

Q: What are you studying in University of Indonesia?
A: I am taking International Relations. Since I was in 6th grade, I have always wanted to be a diplomat. I think that is where my talent lies and, Alhamdulilah, I got in. But lately I’ve also thought about doing other things like being a social worker. Right now, though, I want to focus on the academic part.  We’ll see whether I end up becoming a diplomat or working for multinational companies or a child rights organization.

Q: Has winning the award helped you in your effort to promote children’s rights?
A lot. The Young Leader award really opens a lot of doors for us. People listen to us, and they don’t just see as ordinary kids. It gives us easier access to advocacy. And it is really a medium to inspire other kids in West Sumatra to do something for the world. It makes them more motivated and driven. I also got a scholarship for my university studies from the West Sumatra governor because of this award.

Q: Have you ever had any disappointments?
Of course there are some disappointments. The government have made policies to observe children’s rights, but we have not seen the impacts directly on the plights of all children. However, I still appreciate what they have done because this is not an easy task. And I would continue to support the government and the community to become better, because the last thing we need to do (when we’re disappointed in something) is to become apathetic.

Q: How do you feel about becoming a judge for the Indonesian Young Leader this year?
I think the biggest difficulty was that I had to judge my own friends. Many of them I had known from participating in National Children’s Forum, and some I had sort of known from my own friends. So I tried to be objective and looked at them from leadership and innovation aspects. I really appreciate what they have accomplished, but I think that many of them had not really presented their leadership enough, that is what I tried to dig from them. I also think that (in order to stand out) they could have packaged themselves better.

Sebelumnya sorry kalo tulisan ini bakalan English (amburadul). soalnya.. ada pesanan khusus. hehe

IMG_2181

It was an honour for me to be a judge in the 2009 Indonesian Young Leaders Award.  A UNICEF Staff contacted me last week and it made me very happy after I went through a period of sadness. The call came two days after my sister had passed away. “ Iman, are you available to be one of the judges to interview the final ten candidates next week? You’ll be the children representative on the judges forum as you were the winner of the 2008 award,” he said. 

Without missing a beat, I replied, “Yes, Mas. Insya Allah, I’ll be available. Thanks for the offer”.

It came as such a big surprise for me. I had always dreamed of being one of the judges. Last year, I was on the other side of the teleconference. At that time I was in Malaysia for an international conference in Melacca, and the judges phoned me from Jakarta. I’d been curious about the process. Being one of the judges and being named as the representative of all children in Indonesia, of course, it’s like a great source of pride. But more than that, there was a big responsibility that I had to bear. I had to be objective, committed and I had to help choose the best three among ten good candidates.

Three days before the day, I received the documents of all the top ten finalists. I tried to make time to analyze all the finalists and make some notes. As I read their writings and the supporting documents, I admired all the progress they made. I really understood how difficult it is for a child to separate their time, for studying, playing with friends and organizing many organizations and events.

What they have done for their community was also so amazing. Some of them have been actively involved in many activities to promote children rights since more than five years ago. You can imagine how young they were at the time.

On 13 July, 2009,  we interviewed the finalists by phone at the UNICEF office. Every child got 30 minutes to answer questions from the five judges: Ibu Pardina Pudiastuti from the government, Pak Purwanta Iskandar from UNICEF, Maria Hartiningsih from Kompas newspaper, Pak Budi Harjono from Impact Indonesia. By interviewing them, we could see how great the finalists are. We tried to measure their leadership capacity, innovations that they made, their impact to the society, and the consistency of their activities in promoting children rights.

It’s really hard to decide the top three. All of them deserve to be appreciated for their contribution. But, we had to decide. Finally, we chose Andi (South East Nusa Tenggara), Tari (Yogyakarta), and Wahyu (Bali). You can see their profile soon. Hopefully … there will be many media publishing their story (like what I experienced. Ha ha ha).

I believe that the winners will benefit a lot from the award. Doors opened for me. I got many access to promote the issues that I had been struggling to promote. People respect you more and they listened more intently to what I said after I won the award. It is a lot of fun to speak in many forums and events. So, to the three winners, let’s see what will happen to you. I believe that Indonesia will welcome you warmly. Congratulations, guys!

web unicef

Well. udah lama ga update berita yah. khususnya sejak saya pindah ke Jakarta. Well. mohon maaf ya udah lama ga update.. padahal sebenernya ada banyak kisah yang mau dibagi dengan teman-teman smua. Well. sebelum gw crita di postingan yang lain, gw mau share nih. Tadi iseng iseng buka web UNICEF Indonesia, dan saya agak sedikit kaget, ternyata ada news dr UNICEF tentang saya. yah.. isinya mengenai ulasan pemenang PMI tahun  lalu gitu. Agak kaget juga, akhirnya ada yang memuat kita (Saya, Suchi, dan Patricia). Well. tadi orang dari Unicef (Mbak Devi) juga udah nelfon sih, kayak mo bikin cerita dari saya setelah jadi Pemimpin Muda Indonesia tahun lalu, nanti kalo udah di publish di Bulletin nya UNICEF, insya Allah saya bagi.

As we wait for the announcement of this year’s winners on 23 July, 2009, here is a flashback of last year’s inspirational winners…

Muhammad Iman Usman
Iman has spent much of his young life promoting children’s rights. The 17-year old  is involved in various organizations and events ranging from campaigning for the awareness of HIV/AIDS to starting a recycling program. He was proposed for the award by the Children Protection Foundation (LPA) in West Sumatra, where he is from. He was also recommended by Ady Djuanda, the Committee head of West Sumatra’s Children Forum, an organization for kids to promotes their rights and act as dialogue partner with the stake holders.

Iman is a secretary for West Sumatra Children Forum and also the head of Indonesia’s Critical Children Community (KAKI) in West Sumatra. Some of his projects in KAKI included encouraging kids to criticize policies and express their views on current issues their their unique talents and skills, creating weblog for the children to give their opinions on global issues, as well as organizing the recycling program at his school and collecting books for children who survived the earthquake in West Sumatra.

He was chosen as the Care Force Ambassador for HIV/AIDS awareness and as Peer Educator Educator for Indonesian Youth Partnership in West Sumatra. He is also a volunteer in the Indonesian Family Planning Agency’s teen organization (Cemara) in Padang.

His academic achievement is equally illustrious, having been named in 2008 the most accomplished student in all high schools in Padang. In 2007, he was selected for a short program of the international youth exchange organization, AFS Intercultural Programs.

Iman enjoys reading, browsing the Internet, debating, writing and honing his organizational skills. He aspires to be a diplomat or a public relation official, and dreams of owning his own event organizing company. The youngest of six kids was born in Padang in 1991 to father H. M. Hayan and mother Hj. Yanzimar.

The Minister of Women’s Empowerment, Meuthia Hatta, meets Muhammad Iman

Patricia Miranda Wattimena

Patricia likes to talk and debate, which explains why she is studying to be a lawyer at the Pattimura University in Ambon. She hopes to become a human rights lawyer especially for children when she graduates.

She was endorsed for the award by the provincial government of Maluku and also recommended by Maluku’s Interfaith Agency for Humanity.

Patricia has used her persuasion skill to spread information on the danger of HIV/AIDS and narcotics or addictive drugs. She has also led an organization for children and by children: Saniri Anak Maluku. In this organization she actively spoke against violence and promoted the Law on Children Protection, as well as the importance of kids’ involvement in fighting for their rights.

She displayed her acting skills by playing in a production of the play “Throwing Start and Black and White” by Bengkel Teater Kreatif Embun. And she participated in the program to register and develop activities for street kids in Ambon. In addition, she heads the Children Forum in Maluku.

Patricia was born 18 years ago to father Pieter Wattimena and mother Mariana Lekahena. She lives by the principle: “Theory is a big zero if it is not realised.”

Suci Lestari
Having survived the tsunami in Aceh, Tari has been putting her energy and efforts into helping other children like her. The disaster left her orphaned, but the 16-year old has kept her spirit and those surround her strong, actively speaking against violence and promoting kids’ rights.

She was endorsed by the Centre for Study and Protection of Children (PKPA) in Aceh, a non-governmental organization that promotes the rights of children and work to protect them, especially the tsunami orphans.

The eldest of three children has represented PKPA to organize various events to develop talent, help rehabilitate children who survived the tsunami, and hold regular discussions on children’s rights.

She is a peer educator for reproductive health for teenagers in secondary schools, and an editorial staff for Ceudah, a publication for teenagers. She is also the deputy head for Children Committee in Jantho Aceh Besar, where she, among other, campaigned for the protection of children from violence. In addition, she is the deputy head for Children Forum in Aceh Besar.

Born in Banda Aceh to Ali Amran and mother Sri Muliati, Tari hopes to become a flight attendant.

Well. Udah hampir jalan setengah tahun di 2009. well. sekedar mo check aja, resolusi yg udah kubikin di awal 2009. gimana kabarnya??

di awal Januari 2009, saya sempat bikin 9 resolusi yang pengen dicapai di 2009 ini. dan banyak juga komentar dari teman-teman smua. ada yg support, dan juga ada yg kontra. tapi saya menganggap smuanya sbagai kritik positif yang insya Allah bisa membuat saya jadi lebih baik. Dari sejumlah respon yang ada, banyak yang nanya?

1. Buat apa sih resolusi itu?

Kalo ditanya begini, saya sih jawabnya relatif ya. Karena.. kalo untuk diri saya sendiri, resolusi itu penting banget. Saya jadi tahu ukuran keberhasilan saya di 2009 itu apa. apa yang ingin saya capai jd lebih terarah, karena ada fokusnya. kalo cuma “let it flow”, mungkin terlihat asyik. akan ada banyak kejutan yang muncul. tpi juga terkadang progress hidup kita ga terasa.

2. Gimana sih cara bikin resolusi?

Nah ini lebih bingung lagi. hehe. resolusi itu tergantung setiap orang, apa yang mau dia capai. Makanya saya sering bilang di setiap kali saya dapat kesempatan buat sharing, “Let’s dream. and make it happen”. Mimpi itu perlu banget, tapi kita juga harus realistis. artinya smuanya harus dijalani step by step. ada proses yang harus dilalui, dan itu butuh pengorbanan. sesuatu ga akan dianggap berharga atau mempunyai nilai, kalau ga ada pengorbanan yang dikeluarkan (pelajaran ekonomi bangeet.. haha). Intinya, gali potensi kamu. ukur kemampuan diri. THINK BIG. and LET’S DO IT. mimpi tanpa efforts .. ya bakalan tetep jd mimpi.

Okay deh.. lanjut lagi ke soal resolusi td. di awal 2009, resolusi yg 9 itu antara lain (dan kita ulas satu persatu):

1. Lulus UN (Top 3 Sekolah) (CHECKED)

Uff. ini emang ditaro di urutan pertama. mengingat ini tahun terakhir saya di SMA. dan saya hrus lulus. well. sebenernya sih yang utama itu, targetnya harus Lulus aja. kan ga lucu, kalo harus ikutan Paket C. Masuk smansa susah-susah, eh.. malah paket C. Sempat deg degan sih, secara tiap pra UN hasilnya ga mencapai target ini. palingan masih dikisaran nomor 5-10. Well. akhirnya.. setelah deg degan juga nunggun UN. I did it! Alhamdulillah. target yg ini tercapai. kebetulan pas pengumuman hasil, saya lagi di Singapore. dan teman-teman yg bilang, kalo saya nomor 1 di skolah. trus beberapa jam kemudian kepsek nelpon (katanya. nomor 1 juga di kota Padang). Alhamdulillah. ini lebih dari target yang pengen dicapai. Allah dengerin doa hamba-Nya.

2. Masuk HI UI / HI UGM (CHECKED)

Ini serasa mimpi banget. sebelumnya saya udah pasrah aja. kalo memang ga di HI UI atau HI UGM, yang penting saya udah bertekad tetep harus HI. alhamdulillah waktu awal januari juga udah punya cadangan, udah dapet HI UNPAR yang beasiswa. dan as we know, HI UNPAR itu cukup bagus buat swasta. jadi udah siap siap aja kalo harus jd orang Bandung di 4 tahun ke depan. Tapi Allah punya rencana lain, alhamdulillah. so far Allah membuat smua urusan jd lancar. Dengan ajaibnya, saya dapet PPKB HI UI (sejenis PMDK gtu lah). ajaib banget bisa lulus. pdahal kalo liat temen-temen yg lain, banyak yg lebih dahsyat!

3. Ikut International Conference (CHECKED v )

Awalnya sih iseng iseng aja bikin resolusi ini. karena udah ngerasain benefits nya waktu ikutan conference soal disaster management di Malaysia tahun lalu. jadi pengen aja ngerasain manfaat dan memperluas networking lagi. Ini benar-benar aku syukuri banget. di 6 bulan pertama, alhamdulillah udah bisa ikutan 2 international conference. dan itu terjadi di waktu yang berdekatan. cuma jarak 2 minggu. 1st.. seperti yang aku critain di postingan sebelumnya , saya dapat kesempatan buat jd wakil Indonesia di Microsoft Innovative Students’ Forum di Malaysia akhir Mei lalu. dan itu bener bener conference terdahsyat yang saya pernah ikutin.  luar biasa. trus alhamdulillah di pertengahan Juni ini, saya juga dapat kesempatan buat ikutan World Leadership Conference di Singapore (cerita nyusul yah..). Yang ini bener bener nambah ilmu banget plus networking (khususnya calon2 senior. scara yg ikutan dr UI rameeee skali). jadi lebih ngerti soal waste management dan low carbon economy. mm. moga di 6 bulan ke depan, masih bisa ikutan 1 kali lagi.. let’s see

4. Menang Lomba dengan status mahasiswa (Belum menjalani hidup sebagai mahasiswa)

5. Motor baru.. (belum tercapai)

meskipun masih punya 6 bulan lagi. saya ga yakin deh yang ini bakalan tercapai. Hehe. bukan karena tak sanggup, tapi.. tiba tiba aja ngerasa kayaknya ini bukan kebutuhan yang bener bener urgent. apalagi saya nanti kalo jd mahasiswa baru. belom ngerti banget lah soal beginian.. dan tiba tiba aja saya jadi lebih ngidam pengen punya camera baru.. EOS!!!

6. Join di UNICEF Voluntary Board (statusnya checked atau nggak ya?)

Uff. kalo yang ini sih sebenarnya tujuan awalnya itu. pengen join di salah satu organisasi PBB untuk Indonesia sbagai volunteer. karena kenalnya baru UNICEF, jadi pengen aja ikutan UVB (Unicef Voluntary Board). mm. tetep masih pengen sih.. dan saya masih punya waktu 6 bulan lagi buat mencapai yang ini. Tapi setidaknya, Allah udah memberikan alternatif yang lain. awal bulan ini baru dikabarin kalo saya salah satu dr 6 remaja yg diterima di UNFPA (United Nations for Population and Fund) Indonesia – Youth Advisory Panel . Dan selama 1 tahun ke depan saya akan jadi bagian dr UNFPA Indonesia. penasaran juga sih, hal hal apa yang akan terjadi bersama UNFPA. Tapi yang pasti. I trust that amazing things will be happened.

7. Khatam Qur’an lagi (belum tercapai. insya Allah. RAMADHAN!!)

8. Ke Bali (belum tercapai. tapi masih punya 6 bulan lagi. moga2 pas ICAAP diundang. amin)

9. Bertemu dengan tokoh tokoh idola (hahaha) (checked, keep progressing)

yups. sebagian udah ketemu. tokoh tokoh idola ini, sebenrnya siapa aja yang memberikan banyak inspirasi. uff. salah satunya pak Ananta Gondomono. Hehehe. kenal juga baru. ketemunya pas di Microsoft Students Forum kemarin. haha. dan dia juga yg bikin saya pengen nambah karir impian.. sbagai AKADEMISI. harus bisa jadi seperti mas Ananta!!! hehehe

mm. so far sih begitu updata resolusinya. saya percaya di 6 bulan k depan ada hal hal luar biasa yang bisa saya peroleh. untuk bisa jadi seseorang yg tetap ACT, SHARE, and INSPIRE. smoga di kampus perjuangan Universitas Indonesia nantia, smuanya akan lebih dekat dengan apa yang ingin dicapai. amin.

masthead

Alhamdulillah, akhirnya kembali juga ke Tanah Air. Setelah 5 hari di Malaysia, buat ikutan 1st Microsoft Regional Innovative Student Forum. Sebenernya cukup surprise juga bisa ikutan di acara ini, dan jadi satu satunya wakil siswa Indonesia. Microsoft Innovative Student Forum merupakan sebuah konfrensi yang pertama yang diadakan oleh Microsoft Regional Asia Pasifik untuk siswa.

2 bulan yang lalu, saya sempat terdampar di sebuah website, dan akhirnya iseng aja Apply. Isi application form, ngirimin CV, dan aktif di website forumnya. Ada 16 siswa se Asia Pacific yg diundang, dan penetapannya berdasarkan CV dan keaktifan di forum. Hingga akhirnya saya jadi salah satu delegasi terpilih.

Sebenernya kegiatan ini lebih difokuskan ke Innovative Teacher Forum, dimana ini udah ke 5 kalinya digelar ama Microsoft untuk wilayah Asia Pacific. Untuk guru, seleksinya lebih kompetitif lagi. 10 Delegasi tiap negara dipilih setelah melalui seleksi ketat di negara masing-masing. Untuk Indonesia sendiri, mereka yang terpilih adalah guru-guru yang berhasil jadi juara di Micoroft National Innovative Teacher Competition 2008, yang finalnya diadakan di Jogja. Inovasi yang dilakukan melibatkan penggunaan ICT dalam proses belajar mengajar. Dan memang, 10 guru wakil Indonesia ini smuanya DAHSYAT! Sedangkan untuk siswa,  keberadaannya di Innovative Teacher Forum, lebih berfungsi untuk memberikan feedback thd inovasi2 yg telah dibuat oleh guru2 dr 15 negara. 

student forum merupakan kesempatan bagi 16 siswa delegasi negara2 asia pasifik untuk speak up mengenai proses belajar mengajar di negaranya masing-masing. dan juga diadakan project competiton dengan melibatkan penggunaan ICT di dalam project tersebut

Ini sekelumit kisah saya selama di sana….

 

25 Mei 2009

P5250014 P5250016 P5250004

Saya berangkat dari Padang ke Jakarta (harusnya sih bisa langsung Padang – Kuala Lumpur, cuma kayaknya memang lebih baik berangkat bersama-sama delagasi Indonesia lainnya dari Jakarta). Sampai di Cengkareng, langsung berangkat ke Hotel Century Park, Senayan. Dan memang udah janjian sih, mau ketemu ama Palmira ma Nurul (anak2 AFS Jenesys Jepang) buat sekedar hang out skalian reunian. Alhasil.. kita main2 gak jelas deh ke Plaza Senayan ama FX. Pas malamnya, balik lagi ke hotel. Dan orang yg saya temui pertama kali adalah Pak Setiyana (Magelang), yang jd room mate saya. Wah Pak Setiyana inicanggih bener. Dia udah nerbitin beberapa buku di bidang kimia (dan FYI, bukunya itu asyik2 banget. Highly recommended deh. Modelnya dibuat seperti diary dengan kemasan kayak magazine. Meskipun saya anak IPS, tapi kalo liat dr kemasan bukunya aja,, udah menimbulkan minat baca). Hehee

26 Mei 2009 

Ini hari keberangkatan ke Kuala Lumpur. Dan sayapun akhirnya bertemulah dengan 10 orang guru2 delegasi Indonesia, plus Pak Ananta B. Gondomono (dari Microsoft Indonesia), dan Pak Gogot S (yg bakalan jd juri perwakilan Indonesia). Hehe. Pas perjalanan ke hotel menuju bandara, saya baru tahu kalo ternyata Pak Ananta itu dosen luar biasa di Hub. Internasional Universitas Indonesia (which is insya Allah beliau bakalan jd salah satu calon dosen saya). Hehe. He teaches Politik Lingkungan Global. Haha. Bener-bener kebetulan yang menyenangkan. Selama perjalanan ke Kuala Lumpur, saya sudah mulai akrab dengan sebagian guru-guru delagasi Indonesia. Dan mereka memang seru! Wah seru deh kalo punya guru kayak mereka smua (tanpa bermaksud mendeskreditkan guru guru saya sendiri. Hehehe).

Sampai di Kuala Lumpur udah sore. Dan langsung menuju Hotel Le Meridien. U know what.. saya cuma punya waktu 1 jam sebelum acara buat Student Forum dimulai. (memang.. jadwal untuk student forum sangat strict. Dan hampir ga ada waktu buat istirahat. Hehe). Pas briefing, saya pun bertemu dengan 15 siswa lainnya yang berasal dari Malaysia, Singapore, Bangladesh, Vietnam, Jepang, Thailand, Philipina, New Zealand, dan India. Plus 3 mentor luar biasa Shaun (dr Singapore, tp kuliah nya di Michigan. Dan dia udah jadi anggota UN Commission for Sustainable Development), Bernise Ang (foundernya SYNC, dan udah pernah jd mentor saya sebelumnya di Online Course – Make It Happen. Cuma baru kali ini ketemu orangnya langsung), dan juga Cherry (anak Hongkong, yang skarang kuliah di Auckland Univ, New Zealand. Dan u know what.. saking brilliant nya dia, di usianya yang 23 tahun, dia udah hampir menyelesaikan gelar Phd nya di bidang Bio Medicine. Hahaha). 

Dan 2 speakers for Student Forum dari TakingITGlobal ( www.takingitglobal.org ). Yang pertama Michael Frudyk (foundernya TIG, yang saat ini mungkin one of the most inspiring youth in the world. Saat usianya 16 tahun aja dia udah jadi millionaire, dan membangun TIG yang sekarang berkembang pesat), plus Katherine W ( dari TIG juga. Sangat humble. Dan seruuuuuuu)

27 Mei 2009

Hari pertama kegiatan dimulai! Dan acara langsung padaaat. 50 Kuala Lumpur Local Students diundang hadir buat berinteraksi dengan kita. di sini kita juga diskusi beberapa hal, khususnya menganai gaya belajar, sekolah, dan usage of technology. hehe. lumayan seru diskui ama anak2 KL, untung juga saya masih ngikutin musik Malaysia (haha. sejak munculnya Jaclyn Victor), dan pengetahuan saya soal musik Malaysia ternyata jd daya tarik bagi mereka (ampe ngomongin si lakinya BCL sgala). hehe. dan siangnya, memang cukup melelahkan. karena ada 2 sesi penting. Tapi cukup seru loh.. yang pertama dari Joel Neoh. Dia ini pemenangnya The Apprentice Malaysia (disana namanya The Firm). trus juga yg jdi project leader YOUTH08 (acara anak muda paling heboh di Malaysia). dan juga yang bikin Youthsays.com ama YouthASIA. wah saya blajar banyak soal enterpreneurship dr dia. dan seru,, pas ngobrol ama si Joel (yg juga model ini), ternyata katanya dalam beberapa bulan ke depan YouthAsia bakalan di launching di Jkt jg. 

Seteleh beberapa jam sesi Enterpreneurship,, sesi kedua dari Brian LARICHE. wah. ini orang seru abis. presentasinya ga ngebosenin. dan sangat bermanfaat banget. dia ini udah expert banget di bidang konsultan project management. alhasil saya mendapat banyak pengetahuan soal project management dan cara bikin proposal yang cihuy.. khususnya krena besoknya kita hrus udah bikin project proposal, sesi ini sangat bermanfaat banget dan dijadikan ajang buat nanya2 ama peserta. Brian orangnya humble banget, nggak heran kalo day by day, dia trus datang meskipun udah nggak tugasnya lagi. dia tetep setia ngasih advices ke kita, dan bahkan dia yang ngajakin kita kabur ke Twin Tower jam 10 malam. Hehehe. Malamnya dinner di Al Nafourah, restaurant Arab gitu. makannya?? BIASA aja. HAHAHA

28 Mei 2009

n217700547_256996_2389208

hari kedua. Hehe. bisa dibilang yang paling melelahkan. karena acaranya padat banget. Hehe. mulai dari nyiapin project presentation. di sini tiap2 orang datang dengan idenya masing-masing. Projectnya terserah, yang penting ada aplikasi teknologi di dalamnya. dan U know what. yang berhasil menang, bakalan dapet funding USD 1000 dari Microsoft Asia Pasifik buat jalanin projectnya. Dan,, setelah berpikir2.. entah kenapa, saya masih kepengen bikin project soal anak2 lagi. dan ide tersebut akhirnya membawa saya ke pengalaman berkunjung ke Pemukiman Pemulung di Bintaro bulan Desember lalu. akhirnya setelah mencoba membuat kemasan yang lebih baik, project ini saya namai CHILDREN BEHIND US. intinya sih mengenai edukasi untuk anak2 pemulung di slum area, khusunya soal literacy, dan basic skill math, plus creativity, dan juga environmental awareness. dan akan hadir sebuah website yg berfungsi untuk menarik awareness dan donasi dr orang2 yg dilengkapi dengan blog stories anak2 jalanan, dan gallery creativity mereka. Saya mencoba meyakinkan 4 rekan lainnya (karena selebihnya spertinya sudha punya ide masing2, dan sangat sulit untuk di persuasi). dan akhirnya 4 rekan ini SETUJU. yes. I HAVE A BIGGEST TEAM among all participants. Haha. ada Kam (Thailand), Shobana (Malaysia), Pai (Thailand), dan Kong Soon (Thailand).

kita dapet kesempatan untuk mengutarakan project di depan teman2 yang lainnya. dan kelihatannya para mentor plus TIG sangat interested dengan project kita, ini kayak nambah semangat buat kita. Di hari ini, kita juga dikasih kesempatan buat ngasih feedback ke guru2 mengenai project mereka masing2, dan kita disuruh milih project yang rasanya paling asyik. guru guru dr Thailand and Korea kayaknya sangat prepare banget. projectnya seru2. Hhehe

Di hari ini, juga diadain opening ceremony yg dihadiri perwakilan Ministry of Education nya Malaysia, Manager Microsoft Malaysia, dll. And lagi-lagi, ini kesempatan kedua saya buat jadi salah satu pembaca deklarasi (STUDENTS STATEMENT). uff. a bit nervous. cuma pngalaman di Beijing dlu cukup membantu saya untuk tenang kali ini. Hehehe

Hehe. malamnya kita makan ke Tamarind Springs. a luxurious Thai Restaurant. Yeah. dan kali ini, saya memilih untuk semeja dengan guru2 Indonesia. hehe. bosen juga mainnya ama Youth mulu. dan ini juga kesempatan buat diskusi lebih banyak dengan guru2 hebat dari seluruh penjuru di Indonesia. (FYI, students dalam kegiatan ini cuma dikit. dan oleh karena itu, kita amat dispesialkan banget. mulai dari tempat, acara. smuanya lebih mewah dari guru. Hehe. jarang2 kan anak2 diistimewakan? hehe. biasanya kalo makan, kita slalu dikasih VIP room. kalo acara, duduknya slalu di depan.) Dan di Tamarind Springs seru juga ngikutin guyonannya orang2 gede, haha. sampai Pak Ananta (Microsoft, dosen luar biasa hi ui) juga bisa ikut ikutan guyon. Hehehe

Uff. sekembali dr Tamarind Springs, kita ke TWIN TOWER (sebentar. just buat poto2). setelah itu, kembali ke hotel udah jam setengah 12 malam, saya langsung ambil insiatif untuk ngumpulin team member yang lain, buat segera bikin presentation slide project kita.. soalnya besok harus udah dipresentasikan di depan guru2. dan ini bener2 kerja luar biasa. smuanya punya kapabilitas, punya peran yang penting, dan saya senang punya Team seperti ini. sangat kooperatif. ga ada yang mengeluh meskipun kta hrus kerja ampe dini hari. Karena smuanya menyadari betapa berharganya project ini buat sedikit membuat perubahan. Think Global, act locally

29 May 2009

P5290234the team

Ini bener bener hari puncak. dan sangat padat. (tiap hari juga padat sih). Kita ada Virtual Congress, dimana kita hrus mempresentasikan project kita secara online (skaligus ini buat rehearsal seblum presentasi di depan guru2). hehe. bener2 teknologi banget deh kongresnya. hehe. setelah LUNCH. It’s PRESENTATION TIME. huaaaa.. dan akhirnya saya sbg project Leader ama Kam (Thailand), yg bakalan present project kita. wew.. seru. di menit pertama saya nervous banget, tpi setelah itu mulai bisa menguasai medan. dan sangat mengalir… dan ternyata komen guru2 smuanya bagus.. juri juga. banyak yg impressed. Hehehe. 

Malamnya, closing party skaligus award dinner. Yeah. seru juga makan di SALOMA Theatre. asyik tempatnya. hehe. dan.. akhirnya WE DID IT! Project ku dapet funding dr Microsoft. 

Overall

Banyak pengalaman luar biasa yang saya dapet selama kegiatan ini. Ini bener2 kesempatan luar biasa yang saya peroleh. meskipun harus ninggalin les toefl slama seminggu,dan mengakibatkan nilai progress check toefl saya turun (HARUSNYA NAIK. hahahha), tapi lebih dari itu., FRIENDSHIP. dan NETWORKING. yes! bisa kenal ama orang2 Microsoft, guru2 yg sangat Inspiring, dan juga ksempatan untuk bikin project dengan CARAKU SENDIRI. Thanks buat kesempatan yg luar biasa ini.

and FYI. tahu ga sih.. selama kepergian saya ini. saya cuma menghabiskan 3,2 ringgit. Hahaha. secara smua udah dibayarin.  Thanks banget buat Microsoft!!! ini juga kepake cuma buat bayar kereta ke Twin Tower. hahaha.. tp akibatnya saya nggak kemana2 slama di Malaysia. yah gpp. I’ve got more than HOLIDAY. hahaha

MORE PHOTOS ON

http://www.facebook.com/album.php?aid=2023261&id=1078106369

PACKING

ada saran apa aja yang perlu di bawa?

Mulai dari tanggal 26 sampai 30 Mei di Kuala Lumpur. Ceritanya nyusul Yah..

Kalo ada perlu, contact lewat email aja di ini_iman@yahoo.com (atau mungkin by FB. Handphone ga aktif. Hehe. atau mungkin aktif juga, tp Mahallll)